|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 14 December 2011 |
|
SEKOLAH RAMAH OTAK Masa liburan sekolah sudah tiba, semesteran baru saja usai. Anak-anakpun sudah merencanakan liburan kemana dan ngapain aja, tapi saya mencoba membayangkan kembali ketika anak-anak itu sudah kembali ke sekolah. Apakah orangtua tahu, bagaimana perasaan anak-anak mereka di sekolah. Apakah anak-anak menghabiskan waktu di sekolah dengan bahagia? Mari kita kaji ulang.
Otak punya sifat-sifat dasar dalam proses pengembangan syaraf terutama yang berhubungan dengan kecerdasan intelektual. Kalau kita ingin anak kita cerdas atau tinggi intelektualnya, maka anak harus belajar dengan cara yang menyenangkan. Sifat alamiah otak adalah bisa bekerja kalau senang.
Untuk itu perlu diketahui apakah sistem belajar yang dilalui anak sesuai dengan sistem otak atau tidak. Kalau anak mengalami penyimpangan prilaku atau stress dalam belajar, maka itu adalah gejala anak tidak menikmati waktu belajarnya di sekolah. Hal itu disebabkan sistem belajar tidak ramah otak.Orangtua bisa mencaritahu hal itu dengan bertanya kepada anak.
Kita juga bisa mengetahui suatu sekolah ramah otak atau tidak, dengan melihat 2 hal: 1. Sistem penialain. Bila sekolah dalam membuat penilaian akhir (angka atau huruf) tidak hanya berbasis pada ujian akhir, tetapi juga berbasis pada perolehan nilai harian yagn diakumulatif, maka sekolah itu ramah otak. 2. Sekolah yang ramah otak membebaskan anak untu kmenjawab pertanyaan/soal sesuai persepsi berpikir mereka. Yang penting adalah mereka bisa menjelaskan logikanya. Pada saat menggambar, anak jangan diarahkan pada warna dan benda tertentu, misalnya bahwa warna daun adalah hijau. Hal itu tidak ramah otak. Biarkan anak berkreasi. Semua keharusan akan menghambat pertumbuhan otak, sehingga anak malas berkreasi. |
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 16 November 2011 |
Keberanian diperlukan untuk tampil dan angkat bicara, keberanian juga diperlukan untuk duduk dan mendengarkan. (Winston Churchill) Orang mulai sadar bahwa masa depan adalah ketidakpastian, dan begitu juga orang menyadari bahwa kepastian itu adalah ketidakpastian itu sendiri. Oleh karena itu, organisasi bisnis berskala besar seperti halnya Microsoft sudah tidak lagi melihat, kemana arah perubahan akan berjalan, melainkan bagaimana mereka menciptakan “arah perubahan” itu sendiri yang dapat mendatangkan keuntungan bagi kesinambungan bisnisnya. Kemampuan dalam menciptakan arah perubahan atau trend ini tentunya dibutuhkan para aktor produktif berkaliber handal beserta teamwork-nya yang memiliki kemampuan diatas rata-rata dalam aspek potensi, fungsi dan kompetensi atau dengan rumus satu kata, kreativitas-nya. Dewasa ini, para pakar behavioral-sciences, banyak membicarakan perihal otak kanan dan otak kiri, Emotional Quotient (EQ) sampai ke Emotional Spiritual Quotient (ESQ) melalui berbagai program seminar dan pelatihan untuk berusaha menggali ke kedalaman inti kekuatan manusia. Sebagai respon atas stimulus di atas, berbagai organisasi dan institusi mengirimkan para pimpinan dan stafnya dengan suatu harapan yang besar, kreativitas dapat dicetak di berbagai seminar dan pelatihan dengan tema-tema seperti itu. Padahal para pesaing yang berada di luar negeri, telah terlebih dahulu meneliti, merencanakan dan melaksanakan program serupa secara evaluatif dan akseleratif terhadap kemampuan-kemampuan yang ingin digali dari tema-tema tersebut, atau dengan kata lain pola pikir kita masih terjebak pada pola pikir mengikuti trend, dan belum pada menciptakan trend. Jadi, ketika orang lain sudah melangkah dua tiga tahap, kita baru masuk ke tahap persiapan, terus demikian puas dengan hanya menjadi “ekor naga” tidak sebagai “kepala”nya, padahal kata kreatif itu sendiri dalam implementasinya perlu dipicu oleh energi, keberanian, dan inisiatif, dimana kesemuanya ini dibutuhkan pengalaman bertarung dalam “medan tempur” yang sebenarnya, tidak melulu berkutat di berbagai forum wacana dan ruang simulasi. Meminjam anekdot dari Mark Twain, “orang yang belajar menangkap kucing dengan menarik ekornya berarti belajar kira-kira 44% lebih cepat daripada yang hanya menonton”. Dengan kata lain, ruang pembelajaran kita terjadi dalam ruang sepanjang hidup kita, tidak terikat atau tersekat-sekat dan meloncat dari satu event ke event lain, meski hal seperti ini tidaklah buruk, namun dalam situasi keorganisasian saat ini terlalu banyak jebakan yang tidak selalu dapat kita tolerir, dan hanya membuang waktu saja. Sikap dan perilaku manusia tidak dapat dicetak dalam waktu yang singkat, kita mungkin merasa berhasil dengan menawarkan sejumlah aktivitas keorganisasian, baik formal maupun informal yang berhasil menarik perhatian publik. Namun yang terjadi justru bisa sebaliknya dimana hasil yang kita dapatkan bukanlah pioneer-pioneer kreatif, akan tetapi yang didapat adalah individu-individu “pseudo-kreatif” yang mungkin fasih dengan pekik “salam super-nya”, dimana ketika persoalan menerpa individu-individu tersebut, mereka kembali menjadi gagap dan panik-reaktif serta defensif terhadap serbuan berbagai kritikan dan persoalan yang datang silih-berganti. Pada hakekatnya, keberanian untuk menata faktor SDM sendiri untuk mengatasi persoalan yang khas menjadi sangat penting, karena kita tidak ingin selalu menjadi pengekor, melainkan bagaimana kita bisa berdiri di depan menatap jurang dan ngarai, lembah dan hutan, serta gedung pencakar langit, untuk kemudian bergerak cepat menempuh dan mengarungi “tantangan ke depan” sebagai individu-individu yang tangguh, penuh impresi dan daya energi yang tak habis-habisnya mantap-kuat menatap ke depan. |
|
Read more...
|
|
|